| Penghormatan Rasulullah kepada Ahlul Qur'an | ||||
|
|
Menjadi manusia yang terbaik dalam hidup ini begitu membanggakan. Dalam hal apapun. Entah itu persoalan materi maupun immateri. Asal menguntungkan masyarakat luas, maka itu dipandang baik dan memberikan dampak positif bagi mereka. Namun sebagai seorang muslim, sifat keterbaikan ini haruslah dipandang dari kacamata agama kita, yaitu Islam dan menurut persepsi Rasulullah sebagai suri tauladan sejati. Dalam sebuah hadits Rasulullah pernah memuji sifat khoiriyyah (yang terbaik) dalam hidup ini. Katanya: خيركم من تعلم القرآن وعلمه Artinya: “Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar al-Qur’an dan mempelajarinya.”(HR. Muslim)
Di hadits lain beliau juga menyebutkan: خيركم خيركم لأهلي وأنا خيركم لأهلي Artinya: “Sebaik-baik kalian..sebaik-baik kalian adalah orang yang terbaik kepada keluarganya. Dan saya adalah orang terbaik di antara kalian terhadap keluargaku.” Dan masih banyak lagi hadits lain yang serupa tentang persepsi keterbaikan ini. Khusus di hadits pertama di atas, mengapa Rasulullah demikian memuji dan membanggakan kaum yang belajar al-Qur’an dan mengajarkannya? Bukan yang lain. Setidak ada beberapa hal yang patut kita cermati dan kita soroti. Pertama: Persepsi khoiriyyah. Terbaik, terpandang, memiliki nilai positif dan menjadi rujukan kebaikan bagi orang lain merupakan sesuatu yang utama dalam hidup ini. Setiap manusia pasti membutuhkan kebaikan dari orang lain. Dan juga bisa bermanfaat bagi yang lainnya. Ini persis apa yang dikatakan Imam Syafi’i tentang hal kebermanfaatan dalam hidup ini. “Apabila aku bertemu dengan orang lain setidaknya ada dua hal yang harus aku lakukan. Antara memberi manfaat atau mendapatkan manfaat.” Inilah akses dari manfaat sosial dari sebuah hubungan komunikasi dan interaksi antara sesama. Filosofi ini tak ubahnya seperti filosofi lebah. Memberikan manfaat sebanyak-banyaknya kepada manusia. Kedua: Lafaz ‘kum’ pada kalimat khoirukum (sebaik-baik kalian) memberikan makna bahwa secara sosial manusia membutuhkan jalinan persaudaraan dengan orang lain. Baik secara langsung ataupun tidak langsung. Karena memang manusia adalah makhluk sosial, bukan makluk individualisme. Nah ketika moodnya sedang tidak bagus alias sedang mengalami keadaan suasana ruhiyyah (kejiwaan) yang kering, maka ia membutuhkan nasehat dan arahan dari orang lain. Jika hubungannya dengan orang lain tidak ada, bagaimana mungkin ia mengatasi dekadensi ruhiyyah yang sedang kritis itu?? Karenanya Allah sangat memuji perilaku kebaikan kita kepada orang lain dalam arti yang seluas-luasnya. Ketiga: Orang yang belajar al-Qur’an. Berkesempatan waktu dan tenaga untuk belajar al-Qur’an merupakan sebuah karunia yang amat langkah di zaman sekarang. Baik itu dimensi mempelajari tilawah (bacaan) yang baik dan benar, mentadabburinya, merenunginya maupun mengaktualisasikannya dalam konteks kehidupan nyata. Allah memuji dan membanggakan orang yang selalu belajar al-Qur’an. Dalam sebuah ayat-Nya, Dia berfirman: “Dan apabila dikatakan kepada orang-orang yang bertakwa, ” Apa yang telah diturunkan dari Tuhanmu?” Mereka menjawab: “kebaikan“…”(Qs an-Nahl: 30) Jadi, tidak diragukan lagi bahwa belajar al-Qur’an dalam artinya membina hubungan dan interaksi secara intensif dengan al-Qur’an adalah salah satu karakteristik di antara nilai-nilai kebaikan yang Rasulullah puji itu. Keempat: Mengajarkannya. Dimensi keempat ini adalah output dari hasil belajar al-Qur’an. Karena al-Qur’an adalah sumber utama semua bidang keilmuan, maka orang yang belajar al-Qur’an harus mengamalkan dan mengaktualisasikan ilmu yang sudah didapatkannya itu. Dengan pemahaman dan pengamalan yang dilakukan, maka akan mengalir banyak sekali manfaat dan kebaikan yang melimpah. Dan itulah hakikat kebaikan dalam hidup ini. Kebaikan yang tidak hanya dirasakan oleh pribadi saja tapi juga kebaikan yang manfaatnya bisa dinikmati oleh orang banyak. Allah swt berfirman: “Allah memberikan hikmah (ilmu dan kepahaman) kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa yang diberikan hikmah oleh Allah, maka berarti dia telah diberikan kebaikan yang sangat banyak.” (Qs al-Baqoroh: 269 ) Mengingat al-Qur’an dengan kandungannya yang berbobot ini berasal dari Allah, pemilik semua kebaikan itu, maka sudah selayaknya setiap muslim bersegera untuk belajar dan kemudian mengajarkannya kepada orang lain. Sebab belajar al-Qur’an dan mengajarkan isi al-Qur’an adalah amal terindah dan bagian dari investasi amal seseorang untuk akhirat kelak. Investasi yang pahalanya akan terus mengalir kepada orang yang mempelajarinya, meski dirinya sudah kembali menghadap Allah swt. Semoga kita diklasifikasikan oleh Allah swt untuk menjadi seorang muslim yang selalu berkesempatan belajar, mempelajari dan mengamalkannya dalam kehidupan nyata. Sehingga pahala demi pahala al-Qur’an bisa kita peroleh sebagai investasi amal kita di akhirat kelak, Amiin. Wallahu a’lam (hidayatullah, Lc) |
| Last Updated ( Wednesday, 11 November 2009 16:15 ) |














