| Bocah Palestina di Pengadilan Militer Israel | ||||
|
|
Pengalaman pahit ini bukan kali pertama dialami oleh anak-anak Palestina, di mana mereka ditahan oleh pasukan penjajah Israel serta memperlakukan mereka layaknya orang dewasa. Ada banyak peristiwa yang lebih parah, berat dan jauh dari rasa belas kasih serta pelanggaran atas anak di bawah umur seperti yang terjadi pada salah satu dari mereka ketika para peneliti mencoba memasukan sebuat tongkat ke dalam anusnya secara paksa. Kisah Hasan Fadhlul Muhtasib, ayah kedua bocah Hasan (13 thn) dan Amir (10 thn) menuturkan tentang penagkapan anak-anaknya, bahwa empat orang tentara Israel menangkap kedua anaknya di depan rumahnya sabtu (27/2/2010) lalu, dan membawa keduanya ke sebuah pos pemeriksaan militer terdekat. Dia juga menambahkan bahwa militer mengeluarkan anak bungsunya, Amir di tengah malam, sementara penahanan terus terhadap Hasan terus berlangsung selama sembilan hari, di penjara Ofer dan diajukan ke pengadilan militer di sana. Sambil menahan rasa sakit, Hasan menuturkan tentang pengalamannya ia berkata: "Para prajurit segera mengikat tangannya dengan borgol plastik setelah penangkapannya, dan menaruh penutup mata di kedua matanya,kemudian membiarkannya dengan kepala tertutup hingga pukul 1 malam. Hasan menambahkan, setelah lepas tengah malam, dia dibawa ke pusat interogasi di dekat pemukiman Yahudi Kiryat Arba, proses interogasi berlangsung selama dua setengah perihal melempari tentara terhadap tentara Israel. lalu pada waktu subuh dia dipindahkan ke penjara Ofer dan menempatkannya dalam sebuah kamar dengan enam tahanan dewasa. Hasan menambahkan bahwa para tentara Israel membawanya dari penjara ke pengadilan dan dia tetap di ruang tunggu hingga malam tanpa ada proses pengadilan, kemudian dia kembali dibawa ke penjara. Perlakuan ini dialaminya hingga empat hari berulang-ulang, dia juga menjelaskan bahwa di kali yang kelima pada pekaln lalu, hakim meminta uang jaminan senilai $ 1.300, tetapi Ayahnya menolak untuk permintaan tersebut, yang kemudian dia dijebloskan kembali ke dalam penjara. (the/aljazeera)
|
| Last Updated ( Saturday, 13 March 2010 17:03 ) |















”Mereka menangkap saya di depan rumah, kemudian membawa saya ke sebuah pos pemeriksaan militer terdekat, mata saya ditutup, tangan saya diikat ke belakang dan tetap demikian selama lebih dari tujuh jam," demikian Hasan fadhlul Muhtasib menggambarkan penangkapan yang dialaminya di kota Al-Khalil (Hebron) di selatan Tepi Barat”.